Free Web Space | BlueHost Review  

          HOME | PERKANDANGAN | PAKAN | PEMELIHARAAN | KESEHATAN | RECORDING | SELEKSI | REPRODUKSI

 

   Rencana Penghapusan PPN Pertanian

  Ada kabar terbaru dari dalam negeri yaitu    seputar rencana penghapusan Pajak    Pertambahan Nilai (PPN) terhadap barang    pertanian yang diambil dari sumbernya.........

 


     http://www.iptek.net.id
     http://www.peternakan.com
     http://www.glory-farm.com/
     http://www.agribusinessclub.com/  
     http://www.poultryindonesia.com  
     http://balitnak.litbang.deptan.go.id  
     






  





 
Sunday, 13-Nov-2005 10:59

 

Reproduksi Ternak Kambing

1. Perkawinan Alami Ternak Kambing

Perkawainan alami

  • Perkawinan alami merupakan perkawinan dimana pejantan memancarkan sperma langsung ke dalam alat reproduksi betina secara langsung, tanpa perantara alat buatan. Perkawinan terjadi secara alami dimana pejantan lebih agresif sedangkan betina bersifat responsif (menunggu).
  • Terkadang perkawinan alami memiliki banyak kendala, seperti terbatasnya kemampuan pejantan dalam membuahi sejumlah betina, motilitas sperma yang dikeluarkan pejantan saat perkawinan, respon betina yang terkadang mengeluarkan kembali sperma yang telah masuk dan lain sebagainya. Namun diluar permasalahan yang ada, sebenarnya cara ini lebih efektif dan paling banyak dilakukan para peternak terutama masyarakat tradisional.

Perkawinan sebangsa/silang

  • Perkawinan dalam ilmu peternakan dilakukan selain untuk melanjutkan keturunan juga untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik dan sesuai dengan yang diharapkan baik secara intensitas maupun kualitas. Upaya yang dilakukan dan merupakan cara paling efektif adalah mengawinkan pejantan dan betina yang memiliki sifat-sifat yang dikehendaki (genetik) dan menghindari perkawinan antar ternak yang memiliki sifat yang tidak dikehendaki, atau dapat juga untuk memperbaiki sifat yang telah ada dengan mengawinkan terhadap ternak yang memiliki sifat lebih baik.
  • Terdapat 2 cara perkawinan yakitu perkawinan sebangsa (straight breeding) dan perkawinan silang (cross breeding).

a. Perkawinan sebangsa (straight breeding), sesuai namanya yakni mengawinkan ternak yang berasal dari satu bangsa dan bertujuan untuk mempertahankan sifat-sifat asli/karakteristik tetuanya dari bangsa tersebut. Perkawinan ini terbagi beberapa jenis :

  • Pure Bred breeding, adalah perkawinan ternak-ternak murni tetapi masih dalam satu bangsa. Cara ini digunakan untuk mempertahankan difat-sifat/karakteristik suatu bangsa yang memiliki sifat unggul
  • Inbreeding, yaitu perkawinan satu bangsa dengan kerabat dekat. Terdapat dua macam perkawinan yaitu 1). line breeding, perkawinan ternak yang mempunyai garis keturunan yang sama, contohnya perkawinan antara sepupu, dan 2). Close breeding, yakni perkawinan dengan keluarga yang lebih dekat lagi, contohnya kakak dan adik, bapak dengan anak dsb.
  • Outcrossing, adalah perkawinan yang berbeda kerabat pada satu bangsa.
  • Grading Up, adalah perkawinan yang digunakan untuk meningkatkan mutu genetik ternak yang diskrib (tidak jelas asal usulnya). Ternak dan kemudian keturunannya tersebut dikawinkan secara terus menerus dengan ternak yang memiliki galur murni dan sifat yang jelas diharapkan. Semakin sering dilakukan perkawinan maka keturunannya akan semakin mendekati sifat yang diinginkan.

b. Perkawinan silang/antar bangsa (cross breeding), yakni perkawinan antara 2 bangsa atau lebih dan bertujuan untuk mendapatkan sifat yang tidak terdapat pada tetuanya, misalnya pada bangsa ternak tipe perah yang memiliki kandungan karkas sedikit, dan ingin dihasilkan tipe dwiguna, maka harus dikawinkan dengan bangsa tipe pedaging.

Masa birahi

  • Ternak dikawinkan jika betina tengah mengalami gejala estrus atau birahi.
  • Siklus estrus pada ternak kambing betina terjadi setiap 18 – 21 hari sekali.
  • Masa birahi untuk kambing betina berlangsung selama 24 – 48 jam.

Perkawinan pertama

Pada perkawinan ternak terutama betina yang baru pertama kali akan dikawinkan sebaiknya dilakukan secara alami dan dilakukan setahap-demi setahap. Penggunaan IB dan pelaksanaan perkawinan alami secara paksa pada perkawinan pertama dapat mengakibatkan pengaruh buruk pada betina dalam jangka waktu yang lama.

Pengaturan perkawinan

Perkawinan pada ternak betina dapat dilakukan setiap 8 bulan sekali terhitung sejak kelahiran pertama hingga kelahiran berikutnya dengan perhitungan 5 bulan umur kebuntingan, dan 3 bulan kondisi istirahat uterus dan waktu kembalinya estrus, dengan catatan tidak ada hambatan dalam proses perkawinan.

2. Perkawinan Buatan (Artificial Insemination)

Pengertian perkawinan buatan

  • Perkawinan buatan merupakan perkawinan antara pejantan dan betina melalui perantara suatu alat dengan cara tertentu. Proses pemasukan semen ke dalam saluran reproduksi betina tidak secara langsung melainkan melalui bantuan manusia dengan menggunakan alat.
  • Prinsip perkawinan buatan ini secara sederhana terbagi 3 tahap yaitu : a). Penampungan semen pejantan melalui alat penampung semen yang bentuknya disesuaikan dengan alat kelamin betina, dan b). Penanganan semen sebelum digunakan pada ternak betina, dan c). Pemasukan/penembakan semen ke dalam saluran reproduksi betina yang juga menggunakan alat bantu khusus.

Tujuan dan manfaat Inseminasi Buatan (IB)

  • Perkawinan buatan bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan perkawinan ternak dan mendapatkan berbagai keuntungan atau manfaat, diantaranya adalah :
  • Penularan penyakit kelamin dapat dihindarkan
  • Memaksimalkan penggunaan sperma sehingga penggunaan terhadap betina dapat jauh lebih banyak lagi.
  • Persilangan antar ras dapat dilakukan dengan mudah
  • Penyebaran bibit unggul dapat berlangsung lebih cepat
  • Bagi kambing pejantan, yang karena suatu sebab tidak dapat mengawini, masih dapat diambil spermanya.
  • Kambing yang bertubuh kecil dapat dikawinkan dengan mudah.

Peralatan dan istilah IB

  • Penampungan semen, dapat melalui berbagai cara diantaranya : a). Metode Vagina Buatan, yaitu suatu alat yang berfungsi untuk menampung semen pejantan sekaligus menyerupai vagina betina baik bentuk, kelembutan, maupun suhunya sehingga pejantan dapat melakukan ejakulasi (penetrasi) seperti biasa. Alat ini berbentuk tabung dengan diameter 5 cm dan memiliki selongsong karet bagian dalam berukuran 23-29 cm. Sebelumnya pejantan harus dipancing dengan betina untuk melakukan ejakulasi, dan pada saat ejakulasi terjadi, petugas dengan sigap menggantinya dengan vagina buatan. b). Metode elektro ejakulator, yakni dengan menggunakan suatu alat bernama elektro ejakulator yang terdiri dari sebuah transformator dan dihubungkan dengan suatu batang yang disebut rectalprobe. Transformator berfungsi untuk mengubah tenaga listrik yang berkekuatan 110 volt, 60 cycle menjadi 30 volt. Rectalprobe ini terdiri dari sebatang karet padat yang berdiameter sekitar 2,5 cm. Cara kerja elektro ejakulator ini yaitu memasangkannya pada rectum pejantan dan arus yang terjadi pada alat ini merangsang timbulnya ejakulasi. Metode ini tidak perlu menggunakan dummy (ternak sebagai pancingan) dan sperma yang keluar akan langsung masuk kedalam alat tersebut.
  • Penanganan semen, dilakukan dengan beberapa tahap : a). Seleksi dan pemeriksaan laboratorium dengan menguji kualitas sperma, b). Pengenceran sperma, dengan menambahkan bahan-bahan seperti susu skim non fat, kuning telur, aquabidest, antibiotika dan glycerol. Bahan-bahan tersebut selain berfungsi sebagai pelindung sperma selama proses pengawetan hingga penggunaan juga berfungsi sebagai makanan. c). Filling & sealing, yakni pemasukkan dan penutupan semen pada straw (kemasan yang berbentuk sedotan untuk minum). Proses ini terjadi melalui mesin didalam cold top dengan suhu yang sesuai bagi keberlangsungan semen. d). Freezing atau pembekuan semen dengan cara diletakkan di permukaan nitrogen cair dalam container khusus dan setelah itu diawetkan dengan jalan dimasukkan ke dalam nitrogen cair hingga saatnya diinseminasikan.
  • Pelaksanaan Inseminasi, adalah suatu cara memasukkan semen dalam straw yang telah dibekukan tersebut ke dalam saluran reproduksi betina (pada cervix). Straw yang berisi semen terlebih dahulu diencerkan kembali dengan cara dicelupkan pada air hangat lalu kemudian salah satu ujungnya dipotong dan isinya dimasukkan ke dalam pipet inseminasi. Peralatan inseminasi ini terdiri dari : a). Spekulum, terbuat dari pipa gelas pyrex berukuran panjang 18 cm dan diameter 2 cm. b). Pipet inseminasi yang terbuat dari gelas berukuran 1 ml dan berskala yang disambung dengan selang karet. c). Spuit yang disambungkan dengan pipet inseminasi. Pertama-tama spekulum dilicinkan dengan tragacanth, lalu dimasukan secara hati-hati kedalam vagina. Setelah itu pipet inseminasi yang telah diisi semen dimasukkan kedalam spekulum dan diarahkan pada cervix kemudian disemprotkan.

Sex ratio

  • Pada perkawinan alami, seekor pejantan mampu membuahi 100 ekor betina dalam 1 tahun, akan tetapi dalam kondisi yang sama, pejantan yang sama yang dikawinkan dengan cara inseminasi buatan mampu membuahi 10.000 ekor betina dalam waktu yang sama. Hal ini dikarenakan metoda inseminasi buatan ini mampu meminimalisir penggunaan sperma, atau meningkatkan efisiensi penggunaan sperma sehingga dapat membuahi betina dalam jumlah yang lebih banyak. Setiap kali penampungan dilakukan, semen dapat mencapai 1 – 2 ml dengan konsentrasi 2.500 juta sel sperma per ml dan pada perkawinan buatan angka tersebut seluruhnya dimanfaatkan dengan baik. Pada perkawinan alami, banyak sekali semen yang terbuang percuma dalam setiap kali perkawinan karena berbagai faktor.

Masa birahi

  • Ternak dikawinkan jika betina tengah mengalami gejala estrus atau birahi. Apabila ternak diketahui berahi pada pagi hari, maka sorenya adalah waktu yang tepat untuk dikawinkan. Sedangkan bila tanda-tanda birahi itu terjadi di sore hari, maka pagi hari harus segera dikawinkan. Apabila perkawinan terlambat, maka sel telur tak bisa dibuahi karena berkaitan erat dengan proses terjadinya ovulasi dan masa hidupnya sperma di dalam alat reproduksi. Begitu juga apabila kambing terlalu awal dikawinkan, karena belum dicapai kesuburan optimal.

Tanda birahi

  • Tanda-tanda birahi pada kambing betina adalah sebagai berikut :
  • Tampak gelisah dan sering mengeluarkan suara-suara
  • Sering mengibas-ngibaskan ekor, jika ekor dipegang akan diangkat ke atas
  • Nafsu makan berkurang ; bila kambing digembalakan sebentar-sebentar akan berhenti merumput
  • Vulva nampak membengkak berwarna merah
  • Dari vagina keluar cairan berwarna putih agak pekat
  • Bagi kambing perah, produksi air susu menurun
  • Bagi kambing betina yang dipelihara dalam kandang sering tidak menunjukkan gejala di atas. Keadaan demikian disebut birahi tenang.

Cara pemeriksaan

  • Setelah ternak dikawinkan, maka beberapa waktu kemudian harus diperiksa apakah proses pembuahan tersebut dinyatakan berhasil atau malah sebaliknya.
  • Pada bulan pertama kebuntingan sangat sulit diketahui secara visual. Tanda-tanda yang mudah diketahui adalah tidak terjadinya estrus berikutnya, tapi hal itu pun tidak mutlak karena ada hal-hal pathologis pada uterus atau ovarium yang dapat meniadakan sama sekali gejala birahi.
  • Pada umumnya kambing yang mengalami kebuntingan akan memperlihatkan gejala-gejala seperti :
  • Kambing menjadi lebih tenang
  • Dalam kelanjutan kebuntingan terlihat adanya pertambahan besar pada dinding perut
  • Bagi kambing yang baru pertama kali mengalami kebuntingan akan terlihat sangat mencolok adanya perkembangan ambing pada usia kebuntingan 2 – 3 bulan
  • Adanya kecenderungan kenaikan berat tubuh
  • Adakalanya pada usia kebuntingan, gerak foetus dapat terlihat dari luar, terutama pada kambing yang kurus. Gerakan ini dapat dilihat pada bagian perut sebelah bawah, sisi kanan belakang.

3. Penanganan Kemajiran

Definisi majir

  • Kemajiran adalah suatu keadaan yang ditandai proses reproduksi yang tidak berjalan secara normal disebabkan oleh satu atau banyak faktor, terjadi baik pada ternak jantan maupun betina.
  • Setiap ada gangguan reproduksi dapat menyebabkan kemajiran. Derajat kemajiran pada ternak tergantung pada banyaknya faktor pengganggu, makin banyak faktor gangguan reproduksi maka makin berat kemajiran yang terjadi.
  • Kemajiran yang derajatnya ringan disebut infertilitas, yaitu kemajiran yang sifatnya sementara dan masih dapat diobati.

Macam-macam sebab majir

  • Terdapat beberapa penyebab terjadinya kemajiran yakni faktor genetik dan faktor lingkungan.
  • Faktor genetik berhubungan dengan sifat turunan yang disebabkan oleh perbedaan kode genetik dalam ternak, misalnya seekor kambing yang lahir dengan kelainan alat reproduksi sehingga agak sulit untuk melahirkan. Sifat yang berupa kelainan alat reproduksi tersebut diturunkan kepada anaknya sehingga beberapa diantaranya timbul masalah yang sama.
  • Faktor lingkungan berhubungan dengan semua hal di luar faktor genetik seperti nutrisi, suhu, penyakit, cara perkawinan yang dilakukan dan manajemen tatalaksana secara keseluruhan. Semua faktor tersebut dapat mengakibatkan kegagalan reproduksi.

Ciri-ciri kemajiran

  • Ternak disebut mengalami kemajiran bila mengalami gangguan pada sistem reproduksi, atau memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Ternak tidak dapat menghasilkan keturunan
  • Ternak melahirkan dalam usia kandungan tidak normal sehingga kondisi anak mati/kurang sehat
  • Terjadinya hambatan pada perkembangan embrio
  • Terjadinya kematian embrio (foetus abortus)
  • Terjadinya penimbunan nanah pada uterus (pyometra)
  • Siklus berahi tidak normal/tidak terkendali
  • Posisi anak saat dilahirkan dalam kondisi tidak normal
  • Bentuk anak yang abnormal
  • Induk melahirkan dengan tingkat kesulitan yang diluar kewajaran

Penanganan kemajiran

  • Apabila ternak mengalami kemajiran dapat dilakukan upaya yang bersifat preventif dan pengabatan/penanganan secara langsung yakni :
  • Bagi ternak yang diketahui mandul atau steril atau memiliki kelainan organ reproduksinya secara permanen sehingga menghambat kelahiran, maka dipisahkan dari kelompok, dengan demikian hanya pejantan dan betina subur dan normal yang melanjutkan perkawinan. Sedangkan bagi ternak yang infertil, mengalami gangguan reproduksi yang sifatnya tidak permanen dan masih dapat disembuhkan maka dilakukan isolasi hingga gangguan tersebut hilang/sembuh. Perkawinan antar ternak yang memiliki sifat genetik yang baik bagi reproduksi dapat menurunkan keturunan yang memiliki sifat yang baik pula sehingga dapat memperbaiki keturunan.
  • Untuk mengefektifkan keberhasilan perkawinan sebaiknya lakukan perkawinan buatan (IB). IB juga dapat mengatasi permasalahan pejantan yang memiliki sperma baik, tetapi karena suatu hal tidak dapat dikawinkan secara langsung. Dengan pemeriksaan kesehatan yang ketat terhadap pejantan yang akan ditampung semennya, maka kemungkinan penyebaran penyakit pada betina semakin sedikit dibanding perkawinan alami tradisional.
  • Guna pencegahan penyakit, upayakan sanitasi kandang dan ternak serta program vaksinasi yang berkala. Lakukan pemeriksaan rutin dengan cara palpasi (perabaan), cek darah, urine, dan diagnosa lainnya agar timbulnya suatu penyakit dapat lebih dini diketahui dan mudah untuk dieliminasi.
  • Perhatikan suhu dalam kandang, jangan terlalu panas atau terlalu dingin karena akan mempengaruhi metabolisme dan fisiologis ternak. Selain itu juga harus memperhatikan ventilasi, arah angin, intensitas cahaya matahari, keleluasaan dalam kandang (floor space) tidak terlalu sempit dan hal-hal berkaitan dengan kandang lainnya.
  • Bila ternak telah mengalami suatu penyakit, maka isolasikan ke kandang khusus dan lakukan pengobatan bagi penyakit yang dapat disembuhkan dan apabila tidak dapat maka ternak harus dimusnahkan karena penyakitnya dapat menular. Penyebab kemajiran disebabkan penyakit terutama oleh bakteri merupakan faktor yang sangat sering terjadi.
  • Perhatikan pemberian nutrisi yang tepat, tidak kurang dan tak berlebih. Pemberian pakan harus sesuai dengan kebutuhan ternak, apakah untuk hidup pokok, untuk pertumbuhan, reproduksi ataukah untuk laktasi dsb. Khusus untuk kualitas semen pejantan, maka berikan makanan tambahan yang mengandung banyak vitamin dan sering digembalakan, dan lakukan perkawinan/pengambilan semen (IB) dalam jarak waktu yang tidak berdekatan. Pemeriksaan kualitas semen ini dapat diperiksa secara teliti di laboratorium dengan menggunakan mikroskop.
  • Perhatikan umur pejantan dan betina, apakah telah memiliki syarat untuk dilakukan perkawinan karena apabila belum terjadinya dewasa kelamin dan dewasa tubuh maka besar kemungkinan akan mengalami kegagalan reproduksi. Interval perkawinan juga merupakan hal yang penting karena terdapat suatu kondisi dimana walaupun fungsi organ reproduksi telah terbentuk namun karena sering digunakan dalam waktu yang berdekatan maka fisik organ tersebut belum siap digunakan, dan harus diistirahatkan terlebih dahulu.
  • Saat terjadi kelahiran, amati dan lakukan pertolongan apabila terdapat kondisi yang abnormal, seperti posisi anak yang terbalik, plasenta yang menutupi pernafasan anak dan tidak dijilati oleh induk, dan kesulitan melahirkan lainnya.

 

 

 

Daftar Pustaka :

1. Murtidjo, Bambang Agus, Memelihara Kambing, Sebagai Ternak Potong dan Perah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 1993.

2. Devendra, Goat Production In The Tropics, Commonwealth Agricultural Bureaux, 1983.

3. Berbagai buku dan sumber lainnya

 

 

 

 

 
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
Copyright @ 2005 Kampoeng_Ternak. All right reserverd